Senin, 03 Desember 2018

Tidak Ada Pertemuan Berikutnya

Pernah merasakan jatuh cinta? Mungkin semua pernah. Terlepas apakah itu cinta sepihak atau saling mencinta. Jatuh cinta warnamu seperti apa? Apakah aku pernah jatuh cinta? Sering dan bagianku adalah cinta sepihak. Aku sendiri yang merasakannya. Dan aku rasa ini menyenangkan dan juga menyedihkan... bagaimana rasanya? Silakan anda mencoba jika penasaran.

Usia hampir 27 tapi belum ada yang satu priapun yang berani untuk bersikap gentle mengutarakan persaannya atau hanya sekedar memberi isyarat padaku. Entahlah mungkin aku tak mempunyai daya tarik sedikitpun.

Pergi berdua dengan pria pernah kulakukan. Tapi jangan harap ada kelanjutan dari pertemuan setelah itu. Mereka mundur teratur... aku gak tahu kenapa. Apa kepribadianku en fisikku sejelek itu? Mungkin.

Mungkin aku harus bersiap jika suatu hari nanti memang tidak ada dia yang kuimpikan bernama "my dearest one" datang. Aku sudah terlalu bosan untuk berencanakan apapun di hidupku. Kalo memang dia tak pernah kunjung datang baiklah aku coba bersiap untuk itu.

Aku sendiri sudah biasa. Aku merasa pahit sudah biasa. Aku harus mandiri juga biasa. Aku merasa terasing juga biasa. Aku tak dicintai juga biasa.

Tak ada yang perlu dikhawatirkan karna aku sudah ahli dalam menyembunyikan perasaanku.



Kamis, 08 Februari 2018

Tuhan Aku Jenuh



Hari demi hari yang kulalui tak sedikitpun membuat diriku menjadi lebih berarti. Semakin bertambahnya usia tidak diikuti dengan kepastian diri semakin membuatku tak berdaya dan ingin rasanya aku bisa mengulang masa lalu. Tapi itu tidak mungkin.

Tuhan aku tahu bahkan lebih tahu tiap kali aku ingin dan telah menetaskan air mataku meminta mungkin memaksaMu untuk lebih memahamiku. Aku lelah terhadap semuanya. Akhhh kenapa aku ini menjadi seorang yang pandai sekali untuk bersungut-sungut.

Dihinggapi rasa bosan merupakan hal yang mengerikan ternyata, mau bergerak untuk pindah dari posisi awal merasa tak mampu karena takut untuk segala sesuatu yang belum pasti. Namun, disisi lain rasa jenuh ini terus menghantui dan mungkin bisa membuatku hanya ingin diam saja tak peduli dengan apapun.

Tanpa penghargaan untuk yang peduli dan tak ada hukuman untuk yang antipati disiplin apa itu pantas? Ada baiknya aku memaksa diriku untuk diam karena mau membela diri rasanya tak akan ada yang pduli.

Tuhan sampai kapan Kau terus tak menganggapku ada??? Menolehlah padaku walau hanya sebentar. Aku benar-benar membuthkanMu.

Minggu, 14 Januari 2018

Ini Aku 26



26 bersahabatlah. Kelak nanti jika Sang Pencipta merestui, kau akan menghantarkanku bertemu dengan dia, 27. Hidup dilalui dengan prestasi dan tak dipungkiri masa kesia-siaan tetap ada menghantui. Ingin hati melupakan mereka berdua dan memulai untuk sesuatu seperti yang dilahirkan ya aku yang baru. Aku mengerti mengapa orang bisa mengambil jalan yang menurut dunia itu ketidakpatutan namun memang ada Sang Pencipta yang selalu melingkupi diri.

26 masih teka teki. Dari belasan hari yang telah kulalui bersamanya masih (mungkin) tersisa ratusan hari lagi. Bagaimanakah kita mengisinya? Kiranya suka datang menghampiri, harapku bisa menjadi nyata untuk hal yang baik bisa terwujud.

Tempat baru dimana orang lain tidak pernah tahu akan aku yang dulu. Sehingga aku tidak perlu lagi khawatir akan ada yang berharap lebih. Aku juga punya rasa bosan dan seperti biasa “aku ingin bebas”. Ratusan hari lagi apakah kita bisa menjalin dengan mesra? Akankah hari-hariku bersamamu bisa membuatku bertemu dengan tempat itu? Entahlah, Sang Pencipta telah merancang yang seperti apa.

Untukmu hari-hari yang belum ku lalui kiranya keluargaku juga dapat menikmati hari-hari dengan damai dan kenyamanan itu tetap ada dalam mereka. Semoga kelak kalian berjumpa dan tak perlu ada kata yang perlu disesali.

Sang ratusan hari mendatang akankah aku bertemu dengan seseorang yang mengerti akan diriku dan diriku mengerti akan dirinya? Dia yang mampu “mengingatkanku” bahwa keegoisan dan pengertian diri sendiri itu ada batasannya. Ataukah aku masih harus menunggu lagi? Atau justru aku telah menyia-nyiakan dia. Nope…. Aku tak ingin ‘dia’ bangkit lagi dari masa-masa lalu yang ingin ku kubur.

Dan yang menjadi di atas segalanya biarlah ratusan hari lagi bisa ku mulai dengan keintiman dengan Sang Pencipta. Wahai Sang Pencipta pasti Kau mengetahui bahwa ada sisi yang kosong dalam hati ini yang tidak bisa diisi oleh apapun yang ada didunia. Tolong kuasailah, karena diriku bukan milikku bertahtahlah di sana karena itu adalah milikMu.

26 Terwujudlah.

DSPH. 13 Januari 2018