Kamis, 17 Agustus 2017

DELIMA DILEMA



DELIMA DILEMA
Karna Hati Tela(h/t) Merdeka
Selamat HUT RI yang ke 72. Cie yang uda merdeka 72 tahun.
Well yang mau dibahas bukan kemerdekaan RI nya tapi kemerdekaan hati.
Delima dilema artinya seseorang yang bernama Delima sedang bingung dan bimbang dihadapkan pada dua pilihan yang sulit akan dirinya sendiri. Apa yang dirisaukan masalah hati (lagi dan lagi). Ini cerita hanya dari sudut pandang diriku seorang 25 tahun yang belum pernah pacaran tapi sudah mengagumi seorang pria selama 10 tahun belakangan. Ya ampun dan ku harap aku bisa menuntaskannya segera (dilema kan satu sisi mengagumi sisi lain ingin melupakan).

Mungkin ada beberapa orang yang sudah tahu tentang kisah ku dengan Pria Diurutan Pertama. Kondisi akhir-akhir ini menyadarkanku atau malah melukaiku (lagi lagi dilema) untuk urusan dengan nya. Awalnya dimulai dari seorang sister yang belakangan susah untuk dihubungi dan tidak tahu alasannya kenapa. Hanya menerka-nerka dan di dukung hasil dari investigasi atau stalking di salah satu sosmednya yang bisa ditarik hipotesis bahwa alasan dia memilih (mungkin) puasa berbicara adalah karna pria yang dikagumi, di doakan dan juga diharapkan telah menjadi milik wanita lain. Dan apabila ini alasan yang sebenarnya tidak menutup kemungkinan juga aku akan mengalami hal yang sama.

Aku tidak tahu bagaimana wanita lain bisa menjalankan kisah asmaranya, tapi kisahku hampir sama dengan sister di atas. Mengagumi pria yang masih menjadi teka-teki dan sangat di buat penasaran karnanya dan kebetulan sampai dengan sekarang mata dan hati ini masih belum melihat pria seperti nya. Atas kejadian ini aku harus bersyukur atau harus menghentikan pengharapanku?

Di satu sisi Sang Pengharapan berkata terus berharap karena harapan itu masih ada namun di sisi lain Sang Realita berkata masih mau nunggu en mengharap orang yang sama sekali tidak pernah membalas perhatianmu? Lagi antara hati dan pemikiran beradu kencang di dada ini membuatnya sesak ingin berteriak dan berharap ada jawaban yang berseru dalam setiap tetesan hujan yang turun.

Mungkin nantinya aku juga akan mengalami hal yang sama seperti sister di atas mungkin pria ini berada di sisiku atau hal yang sama sekali tak ku harapkan dia bahagia bersama wanita lain. Lalu aku bagaimana? Segala bentuk perhatianku seakan dianggap bualan dari seorang yang asing. Hal yang mengejutkan bahwa ucapan ulang tahunku hanya di baca dan tidak di respon.

Aku, aku yang sudah selama 10 tahun ini berharap bahkan tak kau hiraukan. Kau yang ku bawa dalam doaku juga tak sedikitpun kau toleh. Kadang aku bertanya dimana kuasa doa? Mungkin aku terlalu banyak nonton drama korea dimana rata-rata mereka happy ending. Dan sebenarnya kejadian ini harus ku syukuri atau tangisi? Bersyukur karena kau memperlakukan ku seperti ini supaya aku sadar bahwa aku tak seharusnya bersikap berlebihan padamu atau meratapi diri ini seperti tak meninggalkan jejak sedikitpun dalam ingatanmu.

Apa ini namanya mengasihi? Dulu aku memujamu namun setelah aku tahu bahwa kau tak menghargaiku aku malah menaruh sinis padamu. Benar kata orang cinta dan benci hampir sama. Dan aku sekarang mengerti apa maksudnya. Aku berpikir ini rasa yang akan ku pendam dalam hati namun ternyata kau menuntaskannya lebih cepat dari apa yang sudah ku terka. Akan ku akhiri dan kau membantuku dalam menemukan jawaban atas dilema ku ini. Bahkan di saat terendah ku kau hadir dalam memberi jawab apakah ini masih bisa diharapkan? Karna terbukti di balik diam mu saja kau membantuku. Apalagi jika kau sudah bertindak… Kau betul betul membuat Delima Dilema. Apakah hatiku telah atau telat (tela(h/t)) merdeka? Aku harus berharap atau melepasmu?

Aku disini berharap sendiri dan menanti sendiri seperti orang bodoh. Memang tak ada satu katapun darimu untuk mengizinkanku menunggumu namun wanita diberikan sifat kegeeran sehingga satu tindakan saja darimu bisa membuatku berpikir jauh melayang menghayalkan hal yang indah. Apa ini juga salah dariku? Wanita diberi kuasa akan hal itu. Hati, berurusan dengan nya harus hati-hati karena jika tidak bisa jadi patah hati. Hatiku telah merdeka karena tak ada ikatan dengan siapapun atau telat merdeka karena sesungguhnya aku masih mengharapkanmu?