Dari tahun lalu uda kepengen nulis note ini dengan caption "I am a Teacher" cuman belum terealisasi. Ada moment yang pas nulisnya sekarang Jumat, 03 April 2015.
Keinginan untuk nulis catatan ini dikarenakan acara Tv di Metro yaitu Kick Andy menayangkan tentang Alenia's Journey, yaitu perjalanan uncovered di tanah Papua. Singkatnya mereka mempertontonkan sisi lain tanah Papua yang tidak atau belum tersentuh sebelumnya.
Apa hubungan Papua and Teacher??
Cerita akan kita mulai dari sini :-)
Tak bisa dipungkiri bahwa aku sudah memundak gelar as a teacher. 02 Juli 2014 hari dimana aku sudah mendapat Sarjana Pendidikan (S.Pd) seusai meja hijau. Tidak terelak lagi maka menjadi guru adalah profesi yang paling sejalan untuk gelar ini (walaupun di lapangan ga harus begitu).
Untuk karir pertamaku mendapat tawaran dari salah satu sekolah menengah kejuruan negeri di Medan tepatnya sekolah dimana dulu aku belajar. Menunggu sampai ijazah keluar dan menanti pekerjaan yang lebih baik lagi menyambut tidak ada salahnya "memulai pertualangan".
Berdiri di depan kelas berhadapan dengan "mereka yang remaja" bukan hal yang baru untukku sebelumnya selama 3 bulan PPL. But ini berbeda karena aku berdiri dengan gelar di belakang namaku. Mau tidak mau haruslah berlaku sebagai guru bukan calon guru. Pertama kali masuk pasti tetap ada rasa nerveous bahkan sampai sekarang. Tapi lama kelamaan rasa nerveousnya berkurang.
Di awal mengajar pastinya berhadapan dengan puluhan pribadi plus kepribadiannya yang berbeda. Puji Tuhan untuk tahun sulungku mengajar, mendapatkan 12 kelas yang rata-rata 35 siswa dan rata-rata berusia belasan under 17th lah. So lebih dari ratusan kepribadian harus ku hadapi (Oh God disini i do need Your help).
Beda zaman beda tingkah laku. Pasti ada perubahan yang terjadi selang beda zaman ini. Aku tidak bisa memaksakan diriku harus idealis dan mereka (siswa) harus ikut "permainanku". Jika begini adanya mungkin aku bakalan ditolak mereka. Nyanyi cooiii di reject di reject di reject aja....
Di usia 22 tahun lebih menjadi guru memahami kepribadian mereka pasti adalah sesuatu hal yang berat bagiku di awal. Makanya perjalanan karirku diawali dan dipenuhi dengan periode "Teacher Blues". Di mana biasanya ada istilah Mother Blues akunya Teacher Blues. Ga terima dengan kenyataan "Delima now you are a teacher. What??? Should i as a teacher???
Sempat protes bahkan anak murid inipun kena imbas dari periode Teacher Bluesku. Kasihan ya mereka. Namun seiring berjalannya waktu dan aku mulai menerima bahwa I am a Teacher maka dimana ada masa "mengalah" maka aku akan "menerima".
Aku mengalah karna memang mendapati diriku seorang guru namun di saat itu juga aku menerima bahwa mereka enjoy di kelas.
Masih terang dalam ingatanku dimana aku masuk di salah satu kelas dan anak-anak ini diskusi model Jigsaw. Ku hampiri satu group dan mereka itu ga seperti yang ku Inginkan. Di jam ini jika diputar ulang pasti mukaku jeleknya luar biasa (nah loh biasanya Del ;-) )
Aku marah dan mungkin ada sedikit sensitivitas sebagai guru muda dimana pikiranku mereka menganggap enteng guru muda. Namun, aku mulai menyadari ketika aku masuk kelas dengan hati yang senang maka mereka akan menerima pelajaran dengan hati yang lapang. But ketika aku masuk dengan hati yang masih saja menolak diri sebagai guru maka merekapun pasti akan terganggu.
Semenjak kejadian itu rasa dan mas Teacher Bluesku mulai terkikis dan rasa bangga dan kagum menjadi seorang guru mulai bangkit bahkan menjadi seorang guru di tanah Papua.
Beberapa tahun yang lalu aku membaca program SM3T singkatnya bahwa program pemerintah ini mengajak sarjana muda untuk mendidik selama 1 tahun di daerah terdalam, terluar dan tertinggal. Dan salah satu daerah yang menjadi perhatianku adalah Papua.
Aku tidak tahu apa yang akan ju temui disana. Yang pasti akan ku temui pribadi dan kepribadian yang berbeda lagi. Aku ingin mengabdi di sana, sampai sekarang tepat aku sedang menulis note ini aku masih bertanya 'Jalan ke Papua itu???'
Karna program SM3T ini sistem seleksi. Ada yang gugur dan lanjut. Aku terus berusaha dan berdoa agar bisa mendidik di tanah Papua apakah itu dari jalur SM3T atau dari jalan yang lain.
Kembali ke tontonan Kick Andy yang baru saja kusaksikan, melihat Papua dan orangnya aku selalu merasa haru dan bangga. Kami Indonesia We are Indonesian. Aku tidak tahu mengapa mereka tertinggal atau mungkin mereka sengaja ditinggalkan??? Aku sungguh kagum pada sang Pencipta akan ciptaannya pada Indonesia pada Papua; Raja Ampat, Manokwari dll.
Sungguh kagum pada alam dan budayanya.
Sama seperti lirik lagu Soa soa di akhir acara Kick Andy malam ini "Harumkan Indonesia dari sini". Aku juga ingin menjadi bagian dalam mengharumkan Indonesia mengharumkan Papua.
wish Tuhan membukakan jalan yang terbaik agar aku bisa ke sana dan episode dari ke(p)indahan bisa ku alami sendiri. Ke(p)indahan Medan-Papua.
Soon i will know I am a teacher at __________
God writes my future....
With love DSPH
Keinginan untuk nulis catatan ini dikarenakan acara Tv di Metro yaitu Kick Andy menayangkan tentang Alenia's Journey, yaitu perjalanan uncovered di tanah Papua. Singkatnya mereka mempertontonkan sisi lain tanah Papua yang tidak atau belum tersentuh sebelumnya.
Apa hubungan Papua and Teacher??
Cerita akan kita mulai dari sini :-)
Tak bisa dipungkiri bahwa aku sudah memundak gelar as a teacher. 02 Juli 2014 hari dimana aku sudah mendapat Sarjana Pendidikan (S.Pd) seusai meja hijau. Tidak terelak lagi maka menjadi guru adalah profesi yang paling sejalan untuk gelar ini (walaupun di lapangan ga harus begitu).
Untuk karir pertamaku mendapat tawaran dari salah satu sekolah menengah kejuruan negeri di Medan tepatnya sekolah dimana dulu aku belajar. Menunggu sampai ijazah keluar dan menanti pekerjaan yang lebih baik lagi menyambut tidak ada salahnya "memulai pertualangan".
Berdiri di depan kelas berhadapan dengan "mereka yang remaja" bukan hal yang baru untukku sebelumnya selama 3 bulan PPL. But ini berbeda karena aku berdiri dengan gelar di belakang namaku. Mau tidak mau haruslah berlaku sebagai guru bukan calon guru. Pertama kali masuk pasti tetap ada rasa nerveous bahkan sampai sekarang. Tapi lama kelamaan rasa nerveousnya berkurang.
Di awal mengajar pastinya berhadapan dengan puluhan pribadi plus kepribadiannya yang berbeda. Puji Tuhan untuk tahun sulungku mengajar, mendapatkan 12 kelas yang rata-rata 35 siswa dan rata-rata berusia belasan under 17th lah. So lebih dari ratusan kepribadian harus ku hadapi (Oh God disini i do need Your help).
Beda zaman beda tingkah laku. Pasti ada perubahan yang terjadi selang beda zaman ini. Aku tidak bisa memaksakan diriku harus idealis dan mereka (siswa) harus ikut "permainanku". Jika begini adanya mungkin aku bakalan ditolak mereka. Nyanyi cooiii di reject di reject di reject aja....
Di usia 22 tahun lebih menjadi guru memahami kepribadian mereka pasti adalah sesuatu hal yang berat bagiku di awal. Makanya perjalanan karirku diawali dan dipenuhi dengan periode "Teacher Blues". Di mana biasanya ada istilah Mother Blues akunya Teacher Blues. Ga terima dengan kenyataan "Delima now you are a teacher. What??? Should i as a teacher???
Sempat protes bahkan anak murid inipun kena imbas dari periode Teacher Bluesku. Kasihan ya mereka. Namun seiring berjalannya waktu dan aku mulai menerima bahwa I am a Teacher maka dimana ada masa "mengalah" maka aku akan "menerima".
Aku mengalah karna memang mendapati diriku seorang guru namun di saat itu juga aku menerima bahwa mereka enjoy di kelas.
Masih terang dalam ingatanku dimana aku masuk di salah satu kelas dan anak-anak ini diskusi model Jigsaw. Ku hampiri satu group dan mereka itu ga seperti yang ku Inginkan. Di jam ini jika diputar ulang pasti mukaku jeleknya luar biasa (nah loh biasanya Del ;-) )
Aku marah dan mungkin ada sedikit sensitivitas sebagai guru muda dimana pikiranku mereka menganggap enteng guru muda. Namun, aku mulai menyadari ketika aku masuk kelas dengan hati yang senang maka mereka akan menerima pelajaran dengan hati yang lapang. But ketika aku masuk dengan hati yang masih saja menolak diri sebagai guru maka merekapun pasti akan terganggu.
Semenjak kejadian itu rasa dan mas Teacher Bluesku mulai terkikis dan rasa bangga dan kagum menjadi seorang guru mulai bangkit bahkan menjadi seorang guru di tanah Papua.
Beberapa tahun yang lalu aku membaca program SM3T singkatnya bahwa program pemerintah ini mengajak sarjana muda untuk mendidik selama 1 tahun di daerah terdalam, terluar dan tertinggal. Dan salah satu daerah yang menjadi perhatianku adalah Papua.
Aku tidak tahu apa yang akan ju temui disana. Yang pasti akan ku temui pribadi dan kepribadian yang berbeda lagi. Aku ingin mengabdi di sana, sampai sekarang tepat aku sedang menulis note ini aku masih bertanya 'Jalan ke Papua itu???'
Karna program SM3T ini sistem seleksi. Ada yang gugur dan lanjut. Aku terus berusaha dan berdoa agar bisa mendidik di tanah Papua apakah itu dari jalur SM3T atau dari jalan yang lain.
Kembali ke tontonan Kick Andy yang baru saja kusaksikan, melihat Papua dan orangnya aku selalu merasa haru dan bangga. Kami Indonesia We are Indonesian. Aku tidak tahu mengapa mereka tertinggal atau mungkin mereka sengaja ditinggalkan??? Aku sungguh kagum pada sang Pencipta akan ciptaannya pada Indonesia pada Papua; Raja Ampat, Manokwari dll.
Sungguh kagum pada alam dan budayanya.
Sama seperti lirik lagu Soa soa di akhir acara Kick Andy malam ini "Harumkan Indonesia dari sini". Aku juga ingin menjadi bagian dalam mengharumkan Indonesia mengharumkan Papua.
wish Tuhan membukakan jalan yang terbaik agar aku bisa ke sana dan episode dari ke(p)indahan bisa ku alami sendiri. Ke(p)indahan Medan-Papua.
Soon i will know I am a teacher at __________
God writes my future....
With love DSPH