Selasa, 16 Mei 2017

Hanya IA



Tempat yang paling aman untuk menuangkan pikiranku sampai saat ini masih di buku maupun blog soalnya kalo di buku bisa ku keep sendiri walaupun ada cheater yang try to read my book en untuk blog juga masih tempat yang aman untuk menorehkan kata-kata yang bisa mengingatkanku akan masa0masa yang terjadi dalam hidupku, karena blognya ga punya viewer.

Hari Minggu kemaren tanpa ada appointment para tetua-tetua datang (sodara) ke rumah. Mulanya pada ngebahas hal-hal yang belum menyangkut diri ini secara langsung cuman dari obrolan mereka ada ilmu yang didapat untuk tahu gimana emosional dari sisi mereka yang telah menjadi tetua.

Waktu yang (tak) ditunggupun tiba, giliranku sebagai subjek hidup untuk dibahas. Topiknya aku senang yaitu tentang Pasangan Hidup (PH). Ya secara mereka telah nyata berpengalaman tak mungkin ku sahut dengan impianku yang telah berulang-ulang ku khayal. Dengan lapang dada dan sebagai bentuk rasa hotmat setiap apa yang dikatakan mereka dijawab dengan kata “IA”. Dan yang paling ga seru tentang menyoal kenal mengenalkan. Nah untuk urusan ini ga tahu kenapa “males” kan lebih berkesan kalo ketemu ato kenalan dengan pria secara langsung tanpa ada yang diatur biar lebih natural aja kisahnya.

Mereka pada bilang “di usia sekarang uda bisalah punya kawan cowok” (dalam hati shout ‘kawan cowo SD mpe kuliah uda ada’). Jadi ga apa-apalah kenalan sama “dia” (aka orang yang mau dikenalin). Padahal no HP tu orang uda ku block (jahatnya daku, sorry ya) bukan soal kenapa-napa males aja kalo untuk alasan ya banyak tapi ga tahu entah kenapa hati berbisik ga usalah di lanjutin. Di saat seperti ini aku jadi kepikiran Dilan (ituloh sosol pria di novel Pidi Baiq). Tentang bagaimana dia berkenalan dengan Milea sosok wanita yang dipujanya. Emang ya kalau sudah menyangkut hati yang paling ngerti ya juga hati.

Wanita mana yang ga punya mimpi untuk memiliki wedding yang manis? Aku salah satu wanita yang punya mimpi bahkan konsep pernikahanku kelak. So…. Mamakku sayang anakmu ini normal. Bukan berarti ketika ngebahas masalah pacar di usiaku yang 25 ini masih belum punya pacar akunya ga normal. Aku normal sebagai pecinta pria (pria). Buktinya konsep pernikahanku yang direstui oleh pasangan impianku punya ide untuk pemberkatan yang dibuat sesakral mungkin dengan nuansa putih dan dihadari sedikit orang saja. Kemudian untuk lagu pengantar masuk k eke Gereja lagu dari Jesu Joy of Man Desiring dan lagu wedding kami When God Made You. Uda matang kan…. Tapi kenyataannya pasangannya belum ada. Hahaha entah entah dimana dirimu berada.

Terdengar seperti keputusasaan.

Sekarang waktunya untuk memantaskan diri untukmu sang pujaan biar menjadi pasangan yang sepadan. Walapupun kadang ga sabaran untuk bertemu. Entahlah…. Hati ini nanti akan terpaut pada siapa. Siapakah dirimu yang kelak mengerti diriku yang penuh dengan kekakuan, keegoisan, kecemasan, rumit, en pemikiran yang riweh. Seandainya ada Dilan dimasa sekarang mungkin bukan lalgi Milea yang membutuhkanmu tapi aku. Sosok gentle, spontan, pemikiran yang unik, anti mainstream, yang paling penting berjuang demi wanitanya. Akankah kita kan bertemu? Apakah ada???

Masih menunggu…..
DSPH