Tempat yang paling
aman untuk menuangkan pikiranku sampai saat ini masih di buku maupun blog
soalnya kalo di buku bisa ku keep sendiri walaupun ada cheater yang try to read
my book en untuk blog juga masih tempat yang aman untuk menorehkan kata-kata
yang bisa mengingatkanku akan masa0masa yang terjadi dalam hidupku, karena
blognya ga punya viewer.
Hari Minggu
kemaren tanpa ada appointment para tetua-tetua datang (sodara) ke rumah.
Mulanya pada ngebahas hal-hal yang belum menyangkut diri ini secara langsung
cuman dari obrolan mereka ada ilmu yang didapat untuk tahu gimana emosional
dari sisi mereka yang telah menjadi tetua.
Waktu yang (tak)
ditunggupun tiba, giliranku sebagai subjek hidup untuk dibahas. Topiknya aku
senang yaitu tentang Pasangan Hidup (PH). Ya secara mereka telah nyata
berpengalaman tak mungkin ku sahut dengan impianku yang telah berulang-ulang ku
khayal. Dengan lapang dada dan sebagai bentuk rasa hotmat setiap apa yang
dikatakan mereka dijawab dengan kata “IA”. Dan yang paling ga seru tentang
menyoal kenal mengenalkan. Nah untuk urusan ini ga tahu kenapa “males” kan
lebih berkesan kalo ketemu ato kenalan dengan pria secara langsung tanpa ada
yang diatur biar lebih natural aja kisahnya.
Mereka pada bilang
“di usia sekarang uda bisalah punya kawan cowok” (dalam hati shout ‘kawan cowo
SD mpe kuliah uda ada’). Jadi ga apa-apalah kenalan sama “dia” (aka orang yang
mau dikenalin). Padahal no HP tu orang uda ku block (jahatnya daku, sorry ya)
bukan soal kenapa-napa males aja kalo untuk alasan ya banyak tapi ga tahu entah
kenapa hati berbisik ga usalah di lanjutin. Di saat seperti ini aku jadi
kepikiran Dilan (ituloh sosol pria di novel Pidi Baiq). Tentang bagaimana dia
berkenalan dengan Milea sosok wanita yang dipujanya. Emang ya kalau sudah
menyangkut hati yang paling ngerti ya juga hati.
Wanita mana yang
ga punya mimpi untuk memiliki wedding yang manis? Aku salah satu wanita yang
punya mimpi bahkan konsep pernikahanku kelak. So…. Mamakku sayang anakmu ini
normal. Bukan berarti ketika ngebahas masalah pacar di usiaku yang 25 ini masih
belum punya pacar akunya ga normal. Aku normal sebagai pecinta pria (pria).
Buktinya konsep pernikahanku yang direstui oleh pasangan impianku punya ide
untuk pemberkatan yang dibuat sesakral mungkin dengan nuansa putih dan dihadari
sedikit orang saja. Kemudian untuk lagu pengantar masuk k eke Gereja lagu dari
Jesu Joy of Man Desiring dan lagu wedding kami When God Made You. Uda matang
kan…. Tapi kenyataannya pasangannya belum ada. Hahaha entah entah dimana dirimu
berada.
Terdengar seperti
keputusasaan.
Sekarang waktunya
untuk memantaskan diri untukmu sang pujaan biar menjadi pasangan yang sepadan.
Walapupun kadang ga sabaran untuk bertemu. Entahlah…. Hati ini nanti akan
terpaut pada siapa. Siapakah dirimu yang kelak mengerti diriku yang penuh
dengan kekakuan, keegoisan, kecemasan, rumit, en pemikiran yang riweh.
Seandainya ada Dilan dimasa sekarang mungkin bukan lalgi Milea yang
membutuhkanmu tapi aku. Sosok gentle, spontan, pemikiran yang unik, anti mainstream,
yang paling penting berjuang demi wanitanya. Akankah kita kan bertemu? Apakah
ada???
Masih menunggu…..
DSPH